Social Icons

Pages

Senin, 25 Februari 2008

GIobalisasi VS Rahmatan Lil A'lamin

Pengertian Globalisasi secara terminologis ; globalisasi dibelah menjadi dua kata yaitu : global dan isasi. Global adalah menyeluruh atau universalitas, sedangkan isasi adalah proses menuju universalitas itu. Kalau dipadukan 2 kata tadi, antara global dan isasi, maka kemudian membentuk definisi, yakni : “Globalisasi adalah suatu cara secara sistematis untuk menjadikan dunia ini tanpa ada batas, semua mencakup dalam era kebebasan”. Globalisasi identik dengan strategi ekspansi ekonomi, tapi tidak tertutup juga, kemungkinan ada misi rahasia dibalik baju globalisasi. Jelasnya, globalisasi sebagai upaya barat untuk memaksakan konsep kebijakan mereka (barat) kepada negara -negara kecil (baca : berkembang) seperti Indonesia contohnya. Ketika suatu negara menerima globalisasi, maka otomatis harus siap dengan segala konsekwensi dan kompetisi yang ada, apakah sehat atau tidak sehat. Pihak luar dapat dengan bebas berkompetisi didalam negara yang menerima arus globalisasi. Siapa yang cepat akan dapat, sedangkan yang lambat akan selalu tertinggal.
Menurut DR. Yusuf Qordhowi, bahwa globalisasi yang dimainkan oleh barat berarti “Weternisasi dunia” atau dengan kata lain “Amerikanisasi dunia”. Ada bentuk proses pertarungan eksistensi untuk mengakui eksistensi Amerika seutuhnya, baik dari sisi kehidupan apapun, politik, hukum, budaya, militer, dan sisi lainnya yang terkerucut pada memenangkan benturan peradaban melalui globalisasi. Apakah negara yang menerima globalisasi sudah siap dengan perbenturan budaya antara barat dengan timur? Hari ini negara Indonesia adalah negara korban globalisasi. Apa buktinya? Pergeseran nilai itu sangat kentara terjadi, contohnya dalam aspek budaya, banyak budaya yang sudah tidak lagi menjadi kebiasaan yang berlaku, atau sudah hilang dari permukaan, bahkan tragisnya lagi, sampai dicap kuno bagi siapa yang masih mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, tidak keren alias orang yang ketinggalan zaman.

Barat cukup cerdas dan licik dalam membangun opini untuk melumpuhkan negara yang sedang berkembang atau negara yang mau membangun opininya. Salah satu strateginya adalah dengan menguasai media. Dengan medialah nilai-nilai barat bisa ditransformasikan. Media cetak, media elektronik, bahkan penguasaan media lintas batas, yaitu internet pun dikuasai barat. Indikasi keberhasilan barat dalam strategi globalisasinya adalah dengan maraknya budaya barat yang masuk kedalam negara-negara yang sedang berkembang, padahal negara berkembang belum mampu untuk membenahi urusan dalam negaranya, tenyata sudah harus dihadapkan dengan invasi budaya yang tanpa toleransi. Bagi asumsi awam, globalisasi adalah hal yang positif, yakni sebagai cara untuk meratakan pembangunan antar negara-negara. Dalam artian negara berkembang selalu butuh bantuan dari negara-negara maju. Karena negara majulah yang punya pengalaman akan hal itu, tapi ternyata logika itu tebalik, yaitu negara maju semakin maju dan negara berkembang tak maju-maju. Karena dilapangan yang terjadi adalah bukan globalisasi, tapi invasi, penjajahan, pembunuhan karakter bangsa. Banyak bangsa yang hilang jati diri (kredo) akibat tidak mampu membendung arus globalisasi yang membumi dengan penuh apologi licik barat. Lalu kenapa negara berkembang masih tetap saja mau mengikuti kemauan barat? Padahal sudah jelas sekali kehadiran barat tidak membawa manfaat. Seperti kejadian di Irak, Afganistan dan secara terang-terang membela negara Israel untuk menghabisi Palestina dan Libanon. Sederhananya saja adalah karena negara-negara berkembang sudah termakan jasa (baca: jerat). Bangsa barat sangat cerdas dalam membantu dengan “syarat”. Bantuan itu gampang datang jika ada catatan-catatan yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh negara berkembang. Dan ketika ditengah jalan negara yang termakan jasa (baca: jerat) mau “berkhianat”, maka akan siap-siap untuk mendapatkan ancaman boikot, ya boikot dari negara barat yang masih dimotori oleh Amerika Serikat. Bagi bangsa pengemis adalah sasaran empuk bagi Barat untuk mencengkramkan kuku kekuasaan diwilayah itu, hal ini seperti terjadi di negara Arab Saudi.

Lalu apakah kita benci dengan globalisasi? Atau kita harus menentang globalisasi? Pada dasarnya ketika globalisasi berjalan sebagaimana tuntutan nilai kemanusiaan, pasti semua negara mendukung, tapi saat ini globalisasi yang dimainkan barat adalah tidak jauh beda dengan bentuk penjajahan. Apalagi sudah banyak kebijakan luar negrinya yang nyata-nyata melanggar nurani internasional. Seperti penyerangan ke Irak, Afganistan dan statementnya yang mengatakan jika tidak ikut dengan kami (Amerika ) atau ikut dengan teroris. Hal ini adalah pemaksaan kepada dunia, bahwa saat ini hanya ada 2 (dua) isme yaitu “Amerika atau Teroris”, dan teroris yang dimasksud Amerika adalah Islam (red). Ketika kita mengikuti jargon globalisasi yang dimainkan Amerika, maka sama saja kita membenarkan statementnya bahwa kita sedang ikut bergabung dengan Amerika dalam memerangi teroris. Padahal kalau mau jujur, teroris sejati adalah Amerika itu sendiri. Yang telah banyak membunuh nyawa manusia tak berdosa, dengan dalih menyerang teroris, padahal sampai saat ini teroris yang dimasksudnya oleh Amerika cendrung bias, dan ternyata Amerikalah teroris itu, fakta dilapangan.

Ketika globalisasi yang tidak mampu membawa dunia kepada kemaslahatan, apakah ada lagi, konsep yang bisa dengan serius membawa manfaat bagi alam semesta. Apakah konsep masyarakat tanpa kelas yang selalu dikoar-koarkan komunis mau diadopsi? Padahal telah nyata-nyatanya telah mubazir dan konsep yang telah dijalankan tidak sampai satu abad, ya Uni Soviet tidak bertahan lama, ini membuktikan bahwa komunis telah gagal. Amerika telah gagal, lalu siapa?

RAHMATAN LIL 'ALAMIN

Penulis, ingin mengeksplorasi konsep rahmatan lil ‘alamin dalam Islam untuk perdamaian dunia yang dimpikan bersama. Hal ini dikarenakan konsep-konsep yang ada saat ini sudah tidak relevan lagi. Tidak salah ketika hal ingin di wacanakan kepublik, sebagaimana globalisasi versi barat sudah diwacanakan, bahkan sudah diimplementasikan.

Islam itu rahmatan lil ‘alamin, sebagaimana bunyi Surat Al-Anbiya ayat 107: Wama- arsalna- ka illa rahmatan lil 'alami-n, artinya: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Makna dari Islam rahmatan lil ‘alamin adalah : “bahwa kehadiran Islam didunia membawa rahmat, berkah, kedamaian, dan keadilan bagi seluruh umat manusia di dunia” (http://www.infopalestina.com/diskusi2/view.asp?msgID=9561).

Diperlukan tegaknya khilafah Islamiyah ketika Islam dengan konsep rahmatan lil ‘alamin akan diimpelementasikan. Apa korelasi rahmatan lil ‘alamin dengan khilafah? Sangat berkaitan, hal disebabkan suatu kebijakan tak bisa berjalan tanpa adanya kekuasaan, makna khilafah adalah kekuasaan (umum). Dan tidak bisa juga agama Islam menjadi rahmat bagi semesta alam ketika kekuasaan barat yang masih berkuasa, sama sekali tidak. Lagi – lagi kita akan dicengangkan dengan sejarah yang penuh dengan hikmah, yakni sejarah kegemilangan islam sebagaimana penulis kutip dalam situs (http//swaramuslim.net), ada penggalan kalimat sebagai berikut : Khilafah Islam pernah menaungi ratusan etnis yang berbeda-beda, yang membentang dari tepi Atlantik di Barat sampai sebagian Cina di timur, dan dari tepi Sahara di selatan sampai Kaukasus di utara, tanpa diskrimasi atau penjajahan. Kekuasaan yang besar itu maju bersama. Para ulama bermunculan di segenap penjuru. Mereka berkarya dalam bahasa Arab—sebagai bahasa negara kesatuan saat itu—walaupun mereka bukan etnis Arab. (http://swaramuslim.net/ISLAM/more.php?id=1598_0_4_0_M,)

Kalau kita merujuk lebih jauh lagi kezaman Rasulullah Saw tentu akan sangat terenyuh hati ini mendengar sejarah berkata tentang suatu kesantunan Islam dalam mengelola bumi ini. Adalah konsep yang jelas diturunkan oleh Allah Swt. yang mengetahui akar masalah tentang alam semesta, “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”(QS. Al-Anbiya ayat 107). Kehadiran nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah, tidak lain dan tidak bukan adalah sebagai penebar manfaat bagi alam semesta. Dan ini sudah terbukti dalam rentang waktu 23 tahun, Nabi Muhammad Saw telah membuktikannya, dan diikuti oleh para Khulafah Rasyidin, juga di teruskan dengan khilafah-khilafah yang dipimpin oleh para generasi setelah para Sahabat ra, yang tepat pada 3 maret 1924 M, Khilafah Islamiyah yang pembawa rahmat itu runtuh. Apakah sejarah telah berakhir yang dikatakan Francis Fukuyama benar? Tentu tidak, sejarah akan berulang kembali, dimana peran Islam sebagai rahmatan lil ‘ alamin akan kembali memimpin dunia, dan disaat itulah masyarakat akan terasa benar-benar dilindungi hak-haknya.

Sejarah keemasan itu akan terulang kembali, sebagaimana ayat Al-Qur’an mengatakan : “Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (QS. Al-Anbiya’: 105). Hak untuk mewarisi bumi ini adalah hak hamba-hamba Allah yang sholeh, bukan hak Amerika Serikat, bukan hak Israel. Dengan demikian, adalah suatu hal yang wajar ketika mulai dari sekarang konsep Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin selalu diwacanakan ke permukaan, hal ini disebabkan dasarnya begitu kuat & rasional, Allah sebagai penjamin atas hal itu. Manusialah yang menjalankan misi rahmatan lil ‘alamin, dan Allah akan benar-benar mewarisikan alam semesta ini kepada hamba-hamba-Nya ketika syarat yang ada sudah terpenuhi, sebagaimana ayat berikut : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf-96).

Banyak faktor mengapa konsep rahmatan lil ‘alamin belum masuk kedalam tahapan praksis, hanya teori yang ada, atau masih menjadi retrorika islam dalam menangkis tudingan statement - statement barat yang mendiskreditkan Islam. Ini karena masih belum layaknya Allah Swt memberikan berkah dari langit dan bumi, karena sangat jelas dilapangan, banyaknya Islam yang dipisah-pisah oleh manusia, Islam yang diambil dan islam yang dibuang, Islam yang dicegah ketika masuk kenegara, Islam yang dijauhkan diri dari zaman, Islam yang hanya asyik didebatkan tapi tidak asyik untuk diamalkan. Tentu Allah akan menunda janji-Nya itu, karena memang ummat islam sendiri yang belum siap untuk mewarisi alam semesta ini.

Lalu ketika begitu adanya, maka hari ini akan tetap berlangsung konsep barat dengan baju globalisasi untuk menjajah dunia, akan lebih banyak lagi pelanggaran hak azasi manusia yang terjadi, akan lebih banyak lagi anak-anak yang menjadi korban perang, wanita yang kehilangan kehormatannya, bangunan-banguan yang hancur, ketika memang globalisasi atau “Amerikanisasi” itu dibiarkan begitu saja menggurita di dunia internasional.

Sebenarnya riak-riak kebangkitan Islam itu sudah mulai terasa, dan barat sekarang sudah kewalahan dalam mencegahnya, penyerangan negara-negara Muslim (Irak, Afganistan) adalah suatu bentuk kewalahan dan kekhawatiran barat tentang isu kebangkitan Islam. Syaikh DR. Yusuf Qordhawi dalam buku Geliat Dakwah, menyatakan : bahwa kebangkitan Islam akan tiba, dan Dia memprediksi Indonesialah sebagai lokomotifnya. Ya! Dunia tinggal menunggu waktu saja, Insya Allah tidak lama lagi kebangkitan Islam akan terealisasi. Penulis optimis tentang itu, karena Allah Maha Kuasa telah menjaminnya. Maka dengan “legowo” globalisasi (barat) akan mundur teratur dan mempersilahkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin untuk menabur manfaat bagi alam semesta.

Wallahu’alam!
Jhon Kennedi Sinaga
Sekretaris KAMMI Daerah Sumut
email: jenazah_syuhada@yahoo.com
http://oase-law.blogspot.com


disalin dari :
http://www.kammi.or.id

Citra Soeharto di Televisi

Oleh: Sudaryono Achmad
Penulis adalah seorang pengamat media, sastrawan dan saat ini mendapat amanah di Divisi Media, Dept. Komunikasi & Informasi, Humas KAMMI Pusat periode 2006/2008.

Apa manfaat pemberitaan sakitnya Pak Harto bagi publik ?. Saya agak lama memikirkan hal itu. Hampir setiap hari semenjak Pak Harto dirawat di rumah sakit, televisi swasta kita semuanya berlomba-lomba memberitakannya. Tak lupa menaruh wartawan khusus dalam peliputan tersebut. Bagi saya, televisi swasta kita telah berlebihan, bahkan gegabah untuk rame-rame membuat citra baik atas diri Soeharto, seolah lupa akan sepak terjang kediktatoran dan despotiknya selama 32 tahun berkuasa.
Bagi publik awam, apalagi rakyat di tanah air yang masih bergelimang kemiskinan, berita sakitnya Soeharto tak banyak punya pengaruh besar. Idealnya, kalaupun toh sosok tersebut mempunya nilai berita yang penting, tetapi melebih-lebihkan pemberitaan, apalagi mencoba membangun citra baik, tentu menyimpan sebuah persoalan tersendiri. Agak sulit menjelaskan fenomena tersebut. Yang paling mudah hanyalah soal saham-saham sebagian besar perusahaaan televisi swasta yang masih dikuasai keluarga cendana. Inilah yang membuat kita maklum sekaligus jengkel.
Dalam ranah studi media, terutama peminat cultural studies akan terlihat jelas bagaimana proses pembodohan publik ini berjalan. Logika-logika rasional dan argumen “ilmiah” bisa menjelaskan hal tersebut. Meminjam terminologi Jean Baudrillard (1981) dalam “Simulation” yang kerap dipopulerka oleh Yasraf Piliang, televisi swasta kita telah melakukan “Simulakra Media”, memproduksi segala kepalsuan (false) dan menyimpang dari rujukan (referent) kemudian menciptakan topeng-topeng atas citra baik Soeharto.
Lebih jelasnya, logika tersebut diantaranya;
Pertama, logika citra (logics of image). Televisi swasta kita mencoba untuk terus menerus membangun citra baik atas diri Soeharto. Inilah “ideologi” yang dominan atas berbagai tayangan yang ada, sampai saat ini.
Kedua, logika tontonan (logics of spectacle). Televisi swasta kita rame-rame menayangkan acara doa bersama masyarakat. Sementara, dalam sebuah kesempatan, beberapa mahasiswa berdemostrasi di rumah sakit tempat Soeharto di rawat, judul berita yang muncul “Mahasiswa demo, jalanan macet”. Ini bukti kepada siapa media berpihak.
Ketiga, logika diskontinuitas (logics of discontinuity). Media televisi kita mencoba untuk memutus hubungan dengan sepak terjang Soeharto sebelum 1998. Tayangan yang ditonjolkan adalah “Soeharto kini” yang mana masyarakat masih mengelu-elukan. Sejarah seolah terlupakan.
Keempat, logika diinformasi (logics of disinformation). Hal ini tampak dari tayangan talk show seputar kasus hukum Soeharto yang tanpa frame. Hasilnya, adalah keruwetan dan kekacauan informasi. Publik dibuat bingung dengan terpaan-terpaan informasi tanpa ada “benang merahnya”.
Inilah, bukti nyata bagaimana peran media (televisi) kita berjalan. Dan, kita menjadi tahu dan paham, kepada siapakah sebenarnya media kita sekarang ini berpihak. Untuk itu, publik mesti jeli memilah dan memilih informasi yang ditonton. Sikap kritis perlu dikedepankan agar kita tidak terhanyut pada kesesatan informasi yang diproduksi media. (caesar)

sumber :
http://www.kammi.or.id

Kamis, 21 Februari 2008

Tanda-Tanda Hati yang Mati

"Di antara Tanda-tanda Hati yang mati, ialah tiada rasa sedih apabila
telah kehilangan kesempatan untuk melakukan taat kepada Allah, tiada
juga rasa menyesal atas perbuatan kelalaian yang telah dilakukannya."

Hati yang didalamnya hidup Keimanan akan merasa sedih apabila iman
dan taat itu hilang daripadanya. Hati yang beriman itu sangat
menyesal apabila ia melakukan dosa. Hati ini sangatlah senang apabila
ia melaksanakan ketaatan.

Perbuatan manusia yang dikendalikan oleh hati yang beriman pasti
selalu menjurus kepada ketaatan dan bergegas meninggalkan kemaksiatan,
sehingga hatinya tidak gelisah oleh dosa, dan jiwanya tidak resah oleh
maksiat. Kejahatan yang selalu mencari peluang mendobrak benteng hati
insan, mampu menghancur-luluhkan benteng itu, apabila pertahanan Iman
yang menjaga benteng hati itu lemah.

Sebaliknya, benteng hati itu akan Kokoh kuat, walaupun dengan serbuan
dan dobrakan apa pun, apabila iman yang menjadi perisai di dalamnya
kokoh kuat bagaikan batu karang di tengah samudera.

Seorang hamba yang Mukmin akan senantiasa terus-menerus mencegah
masuknya kemaksiatan dan kekotoran di dalam hatinya, membentenginya
dengan amal ibadah. Ia harus merasa susah ketika dihinggapi dosa, dan
gembira apabila melakukan kebaikan. Dalam sebuah Atsar : "Barang
siapa merasa SENANG menjalankan kebaikan, dan merasa SEDIH
menjalankan kejahatan, maka ia adalah orang yang beriman. "

Sebaliknya, hati yang suka dihinggapi kotoran kemaksiatan, tidak
merasa sedih ketika menjalankan perbuatan maksiat (dosa) dan kotoran
jiwa,maka itulah hati yang mati dan buta.

Tanda-tanda Allah Ta'ala ridha terhadap seorang hamba, maka hatinya
akan terang benderang menerima kebajikan, dan mampu menghindari dosa.

Kearifan hati itu dapat dilihat dari perbuatan manusia dalam hidupnya.
Hati yang hidup dan 'arif nampak pada wajah pemiliknya. Cahaya wajah
dan perilaku seperti mimik pada raut wajah pemiliknya, hati yang jauh
dari dosa dan bentuk maksiat, akan tampak dalam pembicaraannya.
Ucapan seseorang terkias dengan jelas dalam setiap susunan kata-
katanya. Hati yang terbuka oleh Iman akan menunjukkan bunyi pada
kalimat yang yang diucapkan seseorang.

Halus, jujur, ikhlas. Sebaliknya, hati yang hitam tertutup oleh noda
akan terbias dan semua kalimat yang diucapkan tak bisa ditutup-tutup.
Itu semua adalah gambaran tentang hati orang berIman.

Hati yang berIman adalah hati yang hidup, sedangkan hati yang jauh
dari keimanan adalah hati yang mati. Hati yang hidup oleh keimanan
akan menumbuhkan kebaikan dan ketaatan, hati yang tertutup dari
keimanan akan menumbuhkan kejelekan dan kemaksiatan.

Selamat Datang di Blog FKMKI Unhas

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat Datang di Blog Resmi FKMKI Unhas. Jika ada pesan, kesan ataupun hal-hal yang kurang berkenan silahkan isi ShoutBox atau kirim email ke : fkmkiunhas@gmail.com.
Anda juga bisa membuka blog ini dengan alamat http://fkmki.co.nr/. Mohon maaf jika dalam blog ini saya terlalu banyak membuat link ke Blog pribadiku, maklum hanya itu yang saya tahu.
Terima kasih atas kunjungan anda.
Muhammad Ghazali
Email : leo_daru@yahoo.co.id