Social Icons

Pages

Kamis, 05 Juni 2008

Janji Bukan Sebatas Ucapan

Janji Bukan Sebatas Ucapan
Oleh Ust. Abu Syauqi M., Lc.


Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An-Nisaa: 145)

DISEBUTKAN dalam sebuah hadits shahih bahwa ciri-ciri orang munafik ada tiga: pertama, apabila ia berbicara ia berdusta; kedua, apabila ia berjanji ia mengingkari; ketiga, apabila diberi amanah ia berkhianat. (HR. Muslim)

Dari hadits tersebut dapat dilihat bahwa janji bukanlah perkara biasa. Meski demikian, kenyataannya janji sering muncul sebatas ucapan, yang begitu saja mudah dilupakan, seolah tiada bekas sama sekali. Padahal, kedudukan janji sangat tinggi pertanggungjawabannya di sisi Allah. Dalam hadits riwayat Muslim sendiri, orang-orang yang senang mengingkari janji dikategorikan sebagai orang-orang munafik. Selain itu, Al-Quran pun mensinyalirnya sebagai berikut, Orang-orang munafik mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. Ali Imran: 167).

Betapa banyak wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada umat-Nya mengingatkan tentang bahaya orang-orang munafik dan balasan yang akan diterimanya, baik pada kehidupan dunia maupun akhirat. Salah satunya dapat kita petik dari surat An-Nisaa ayat 138 yang mengabarkan siksaan yang amat pedih bagi orang-orang munafik.

Hidup manusia tidak pernah luput dari selimut janji. Sejak ruh manusia ditiupkan, manusia telah berjanji kepada Rabb-Nya, kepada Rasul-Nya dan atas konsekuensi dien-nya. Sebuah ucapan kalimat sakti dari setiap hamba sebagai bentuk janji, ikrar diri tentang keesaan Tuhannya.

Kemudian, seorang anak manusia lahir ke dunia. Dalam perkembangannya, manusia akan hidup dalam lingkungan keluarga, menjalankan fungsinya sebagai bagian dari masyarakat, mengemban peran-peran. Di situlah manusia mulai akrab dengan istilah yang disebut janji. Di situ pula kesetiaan seseorang pada ucapannya diuji.

Ucapan menuntut sebuah pembuktian. Pembuktian tentang jaminan kesejahteraan, dan peningkatan kesejahteraan hidup, dan yang lain. Mungkin juga pembuktian atas janji pada diri, keluarga, anak, istri, untuk melakukan perbaikan.

Lisan memang menjadi godaan yang berat. Bukankah semua hal yang kita ucapkan atau bahkan hanya kita simpan dalam hati, akan dipinta pertanggungjawaban oleh Allah?

Tidak dipungkiri, hati kecil sendiri sering berontak dengan pengingkaran-pengingkaran yang kita perbuat. Tapi entah, manusia lebih suka dengan dalih. Ya, segala macam alasan sering terlontar sebagai bentuk pertahanan dari kekerdilan jiwa yang ringkih. Sebagai bentuk pembenaran dari peningkatan yang dibuat sendiri. Kebohongan yang kesekian kali untuk pembenaran diri sendiri. Karena begitu seringnya terjadi atau kita dengar dalam lingkungan hidup kita, tak heran bualan-bualan janji akhirnya berkembang menjadi budaya. Budaya buruk yang terpelihara.

Dalam tatanan sosial, sanksi yang diterima oleh orang-orang yang mengumbar janji, antara lain jatuhnya harga diri seseorang. Kepada orang-orang yang sering berjanji dan sering pula mengingkari, ia tidak akan dipercaya lagi dalam lingkungannya. Apapun yang diucapkan akan dianggap angin lalu yang tidak berguna sekalipun itu sangat penting. Inilah konsekuensi berat yang harus diterima bagi orang-orang yang senang "obral" janji. Orang yang senang mempermainkan janji juga akan tersisih dari lingkungannya.

Lalu, apa yang akan diterima baginya sebagai balasan di akhirat nanti? Dikatakan dalam surat An-Nisaa ayat 145, Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.
Ya, Allah lindungilah kami, hamba-Mu ini dari sifat ingkar janji. Semoga kita terpelihara dari sifat-sifat orang munafik, sifat yang suka mengumbar janji tanpa peduli untuk menepati. Wallahu a'lam.***


ABU BAKAR DENGAN TUKANG RAMAL

Abu Bakar mempunyai seorang hamba yang menyerahkan sebagian dari pendapatan hariannya. Pada suatu hari hambanya itu telah membawa makanan lalu dimakan sedikit oleh Abu Bakar. Hamba itu berkata: “Kamu selalu bertanya tentang sumber makanan yang aku bawa tetapi hari ini kamu tidak berbuat demikian.”

“Aku terlalu lapar sehingga aku lupa bertanya. Terangkan kepada ku dimana kamu mendapat makanan ini.”

Hamba: “Sebelum aku memeluk Islam aku menjadi tukang ramal. Orang-orang yang aku ramal nasibnya kadang-kadang tidak dapat bayar uang kepadaku. Mereka berjanji akan membayarnya apabila sudah memperoleh uang. Aku telah berjumpa dengan mereka hari ini. Merekalah yang memberikan aku makanan ini.”

Mendengar kata-kata hambanya Abu Bakar memekik : “Ah! Hampir saja kau bunuh aku.”

Kemudian dia coba mengeluarkan makanan yang telah ditelannya. Ada orang yang menyarankan supaya dia mengisi perutnya dengan air dan kemudian memuntahkan makanan yang ditelannya tadi. Saran ini diterima dan dilaksanakannya sehingga makanan itu dimuntah keluar.

Kata orang yang mengamati : “Semoga Allah memberikan rahmat atas mu. Kamu telah bersusah payah karena makanan yang sedikit.”

Kepada orang itu Abu Bakar menjawab: “Aku sudah pasti memaksanya keluar walaupun dengan berbuat demikian aku mungkin kehilangan nyawaku sendiri. Aku mendengar Nabi berkata : “Badan yang tumbuh subur dengan makanan haram akan merasakan api neraka.” Oleh karena itulah maka aku memaksa makanan itu keluar takut kalau-kalau ia menyuburkan badanku.”

Abu Bakar sangat teliti tentang haram halalnya makanan yang dimakannya.

Jangan mendapatkan harta melalui jalan yang haram, Jangan gunakan harta yang haram bagi diri sendiri apalagi untuk orang lain.

Kelak diyaumil akhir akan ditanya " Dari mana kamu peroleh hartamu dan kemana kau belanjakan "

Selasa, 03 Juni 2008

Garis Putih Ka'bah


Saya selalu dibuat bingung dengan Foto Ka'bah ini. Perhatikan pada garis putih yang mengelilingi ka'bah. Garis apakah ini? karena pada beberapa foto lain yang diambil pada saat yang sama dari sudut yang berbeda tidak ditemukan garis putih ini.

Ada yang bisa menjelaskan kepada saya..?

Memburu Husnul Khatimah

Amr bin Tsabit bin Aqyasy. Demikian sebagian ahli sejarah sering menulis namanya. Ia seorang penduduk asli Madinah. Ibunya saudara Hudzaifah Ibnul Yaman.

Dalam lembaran sejarah, namanya memang tak banyak disebut. Kiprahnya dalam medan jihad tak banyak diketahui. Hal ini bisa dipahami karena Ushairam, julukan yang sering dilekatkan pada tokoh ini, memang tak banyak berkiprah. Dibandingkan dengan para sahabat Rasulullah saw yang lain, tokoh ini tidak ada apa-apanya. Bahkan pahala untuk dirinya pun, ia tak sempat berbuat. Ia belum sempat melakukan apa-apa ketika ajal menjemput. Pun sekadar melaksanakan shalat satu rakaat saja, ia belum sempat kerjakan.

Dituturkan oleh Abu Hurairah, pada zaman jahiliyah Amr bin Tsabit bin Aqyasy mempunyai “tuhan”. Itulah yang menyebabkan enggan masuk Islam ketika Mush’ab bin Umair datang ke Madinah. Bahkan saat Rasulullah saw tiba di Madinah pun Amr belum juga tersentuh hidayah. Ia tetap musyrik bertuhankan patung. Dalam kondisinya yang tetap seperti itu, para sahabat berbondong-bondong ke medan Uhud. Ia ditinggal sendirian.

“Di mana anak-anak pamanku?” tanyanya pada orang-orang. “Berangkat ke Uhud!” salah seorang menjawab. Ia pun menanyakan beberapa sahabatnya yang lain. Namun semua temannya yang ia tanyakan, berangkat ke medan Uhud. Menghadapi kenyataan itu, Amr segera mengambil senjata, naik ke atas hewan tunggangannya dan bergabung dengan kaum Muslimin di medan jihad Uhud.

Ajal di tangan Allah. Takdir menetapkan Amr terluka parah. Ia dibawa pulang oleh para sahabat Rasulullah saw. Menjelang ajal menjemput, Muadz bib Jabal sempat mengonfirmasi perihal keberangkatannya ke medan Uhud. “Saya berperang karena Allah!” jawab Amr. Abu Daud dalam haditsnya menegaskan, tokoh ini gugur sebagai syahid dan masuk surga.

Kisah yang dituturkan lagi oleh Hani al-Haj dalam bukunya Sirah Rijal Haular Rasul ini memberikan pelajaran menarik. Bahwa, rahmat dan ampunan Allah teramat luas. Seumur hidupnya Amr belum pernah shalat. Namun dikatakan, ia masuk surga.

Kisah ini seharusnya menjadi angin segar bagi para pendosa: koruptor, pencuri dan pelaku tindak kejahatan lainnya. Pintu taubat tak pernah tertutup. Ia terbuka bagi semua hamba Allah yang mau bertaubat. Kapan pun.

Rentetan musibah yang melanda negeri ini, seharusnya menyentakkan kesadaran kita. Tsunami, longsor, kelaparan, dan gempa bumi, bukan gejala alam biasa. Ini teguran Allah pada kita. Semua.

Rentetan bencana ini semestinya membangunkan tidur para pendosa. Sangat boleh jadi, musibah ini adalah lonceng bagi para koruptor, perampok uang rakyat dan pelaku kejahatan lainnya untuk segera bertaubat.

Yang menyebabkan seorang hamba masuk surga bukan semata banyaknya amal, tapi rahmat Allah. Banyak amal hanyalah salah satu cara meraih ridha Allah. Kehidupan seorang hamba ditentukan di penghujung hayatnya. Tiket seseorang menuju surga benar-benar dipastikan di akhir hidupnya.

Rasulullah saw bersabda,”...Sesungguhnya seorang di antara kalian mengerjakan amalan penghuni neraka sehingga jarak dirinya dengan neraka tinggal sejengkal. Namun ketentuan mendahuluinya sehingga ia mengerjakan amalan penghuni surga. Maka, ia pun masuk (surga),” (HR Bukhari Muslim).

Tak ada yang abadi di dunia ini kecuali sang Pencipta. Semua makhluk pasti binasa. Kapan pun waktunya. Kekayaan, ketenaran dan jabatan, tak bisa membuat orang kekal. Semua akan berakhir pada kepunahan. Allah berfirman,”Semua yang ada di bumi itu akan binasa,”(QS ar Rahman: 26).

Akhir kehidupan di dunia merupakan awal kehidupan akhirat. Ia menjadi tiket untuk menentukan pilihan : surga atau neraka. Karenanya, mempersiapkan tiket menuju surga seharusnya menjadi agenda utama setiap Muslim. Kesuksesan di dunia ditandai dengan keberhasilan mempersiapkan tiket tersebut. Ibarat para penonton yang mau masuk dalam sebuah gedung pertunjukkan, mereka harus mempersiapkan tiket. Tiket itulah yang akan dibawa dan diberikan pada penjaga pintu pertunjukkan.

Minggu, 01 Juni 2008

Menggugat Hari Jadi Kebangkitan Nasional

Menggugat Hari Jadi Kebangkitan Nasional

Oleh : Iswandi Khairy Ramen

Ketua KWACI (Kelompok Wacana dan Aksi) Loteng.

Kebangkitan nasional kini telah genap 100 tahun. Banyak macam cara merayakannya. Semua stasiun televisi menayangkan iklan kebangkitan nasional, dengan dibubuhi audio visual yang "menggigit", membuat semangat nasional orang yang menontonnya jadi tumbuh dengan penuh gelora. Sanggup membuat bulu kuduk berdiri dan merinding. Mei memang bulan yang menjadi simbol tumbuh kembangnya kebangkitan nasional, bulan yang menjadi titik awal penyatuan semangat bangsa untuk merebut kemerdekaan dan mengusir penjajah. Tepatnya tangal 20 mei 1908, terbentuk organisasi yang dijadikan simbol perlawanan dan kebangkitan nasional. Budi utomo adalah organisasi tersebut yang dibentuk oleh beberapa mahasiswa Stovia, di antaranya dr. sutomo, yang selanjutnya 20 mei dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional. Catatan sejarah menegaskan akan hal itu.

Namun belakangan muncul wacana untuk merubah hari jadi kebangkitan nasional tersebut. Sejarawan seperti Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara dan kaum muda kampus, menuntut agar hari jadi kebangkitan nasional diubah, dengan menjadikan kelahiran Sarekat Dagang Islam sebagai patokan hari jadi kebangkitan nasional. penulis pun sepakat dengan tuntutan tersebut. Kenapa demikian?

Seiring perjalanan gejolak reformasi, mulai tumbuhnya kedewasaan berdemokrasi, kedewasaan dan kebebasan berpendapatpun medapatkan ruangnya. Runtuhnya rezim orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto, menjadi angin yang segar bagi beberapa sejarawan dan kaum muda intelektual untuk berupaya meluruskan sejarah yang kerap dikaburkan. Ada anggapan bahwa kekuasaan orde baru dibangun di atas pembohongan sejarah yang ironisnya sampai saat ini, pemerintah belum berupaya untuk meluruskan sejarah bangsa ini. Hal ini bisa dilihat dari kurikulum mata pelajaran sejarah yang tidak mengalami perubahan berarti. Kecendrungan atas dasar kepentingan politis (mendapatkan, mempertahankan dan memperkuat kekuasaan), masih mendominasi penulisan sejarah bangsa. Tentang perang Diponogoro misalnya, masih jelas terlihat kebohongan yang ditulis di buku pelajaran Sejarah Nasional Indonesia dan Umum untuk kelas XI yang ditulis oleh I Wayan Badrika terbitan Erlangga. Di halaman 186 tertulis sebab-sebab khusus terjadinya Perang Diponegoro adalah pembuatan jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegal Repo. Ridwan Saidi, pakar Zionisme dalam sebuah dialog menjelaskan bahwa Pangeran Diponegoro tdak akan sepicik itu berperang hanya gara-gara tanah, melainkan perang tersebut terjadi karena Pangeran Diponegoro tidak menghendaki adanya kolonialisme dan karena kecintaannya untuk membela Islam dan bangsa. Begitu juga dengan Sarekat Dagang Islam (SDI), yang seharusnya lebih pantas dijadikan patokan hari kebangkitan nasional, bukan Budi Utomo (BU).

Beberapa hal yang harus dipahami agar pertanyaan di atas bisa terjawab, selain juga membutuhkan kearifan dan kebijaksanaan kita dalam membaca fakta sejarah yang sesungguhnya. Pertama, yang harus diluruskan adalah mengenai waktu kelahiran SDI. Beberapa catatan mengungkapkan bahwa SDI terbentuk pada tahun 1909, setahun setelah Budi Utomo yang lahir pada tanggal 20 Mei 1908. Maka SDI terbentuk karena inspirasi dari organisasi "kaum jawa dan Madura" Budi Utomo tersebut. Letak pelurusannya adalah bahwa hal tersebut adalah sebuah kebohongan dan bentuk pembohongan. Sesungguhnya SDI lahir pada tanggal 16 Oktober 1905. Kelahiran SDI sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan bangsa di bidang ekonomi yang pada saat itu dikuasai oleh penjajah dan kaum Tionghoa. H Samanhudi (pendiri SDI) sangat memahami bahwa bentuk perlawanan penjajahan yang paling mendasar yang berupa pengurasan dan monopoli ekonomi, dengan memperkuat basis ekonomi bangsa.

Kedua, perbedaan yang sangat mencolok lainnya antara SDI dan BU (walaupun sebenarnya hal ini tidak pantas untuk diperbandingkan) adalah ruang lingkup gerakan. SDI memiliki cabang yang cukup luas. Tidak hanya di pulau Jawa semata. Karena SDI mendedikasikan dirinya untuk perjuangan bangsa, maka SDI memiliki cabang di hampir seluruh nusantara, di antaranya Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Sementara BU sendiri, terkesan sangat eksklusif karena hanya mendedikasikan perjuangannya untuk masyarakat Jawa dan Madura semata. BU dengan tegas menolak keanggotaan dari luar pulau Jawa dan Madura. BU menganggap keanggotaan orang dari luar Jawa dan Madura adalah ancaman tersendiri bagi eksistensi organisasinya. Sungguh kenyataan yang pahit, ditengah kepungan kolonialisme, sesama bangsa masih ada rasa curiga dan kekhawatiran. Apakah ini yang dikatakan sebagai nasionalisme, jika ya, sungguh pengertian nasioanalisme yang sangat sempit lagi menyesatkan. Patokan ruang lingkup ini seharusnya dijadikan landasan utama untuk menilai siapa yang nasionalis dan tidak. Padahal nasional berasal dari kata nation, yang berarti bangsa. Bangsa adalah sebuah istilah politis untuk menyebut kelompok masyarakat dalam sebuah teritorial Negara. Maka konsep bangsa ditujukan untuk seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Bangsa Indonesia berarti masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tidak ada pembedaan etnis, suku dan agama.

Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara mengatakan bahwa BU tidak menghendaki nasionalisme dan menghadirkan gerakan yang anti terhadap gerakan Islam. Hal ini bisa dilihat dari brosur terbitan BU, yang bernama Djawa Hisworo, yang selalu menyerukan caci maki kepada Rasulullah dan ajaran Islam. KH Ahmad Dahlan pernah meminta agar diadakan pengajian keislaman di dalam tubuh BU. Namun, mayoritas BU menolak usulan tersebut, yang menyebabkan KH Ahmad Dahlan keluar dari keanggotaan BU.

Ketiga, faktor yang harus menjadi alasan untuk mengkaji ulang hari jadi kebangkitan nasional adalah dengan melihat tokoh-tokoh yang berada dalam masing-masing organisasi tersebut. SDI didirikan oleh tokoh-tokoh yang dekat dengan masyarakat, seperti H. Damanhudi, sehingga mereka tahu betul kebutuhan dasar masyarakat. Dan SDI terbuka umum bagi masyarakat untuk ikut bergabung dalam perjuangan melawan kolonialisme. Tidak dibatasi oleh teritorial, yang terpenting memiliki semangat perlawanan maka siapapun dan dari golongan apapun boleh bergabung. Hal ini bertolak belakang dengan tokoh dan keanggotaan BU. Tokoh-tokoh dan keanggotannya hanya diisi oleh kaum priayi (bangsawan) dan orang-orang terpelajar. Kenyataan ini bisa dilihat dari pemimpin-pemimpin BU. Kebanyakan para pemimpin berasal dari kalangan "priayi" atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.

BU pada puncak kejayaannya pada tahun 1909 hanya memiliki anggota sebanyak 10.000 orang. Sementara Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah nama menjadi SI, jumlah anggotanya pada tahun 1916 SI memiliki 360.000 anggota, yang kemudian meningkat menjadi dua juta pada tahun 1919.

Dalam buku yang berjudul Sejarah untuk Kelas 2 SMA yang ditulis oleh Prof. Dr. M. Habib Mustopo dkk, yang diterbitkan oleh Yudhistira tahun 2004, keontetikan penulisan tentang pergerakan nasional perlu dipertanyakan. Pada Bab 5, sub judul "Organisasi-organisasi Pergerakan Nasional" hal 181-184, organisasi pergerakan yang ditulis di nomor urut pertama adalah Budi Utomo. Prioritas ini adalah bagian dari pengaburan akan sejarah SDI. Karena SDI tidak disinggung sedikitpun. Memang di nomor urut dua, organisasi yang ditulis adalah Sarekat Islam (S I). Untuk penegasan bahwa SI tidak bisa dipisahkan dengan SDI. Karena SI merupakan metamorphosis dari SDI. Pada tahun 1912, terjadi kekacauan anti Tionghoa, di mana SDI sebagai gerakan melawan perekonomian Tionghoa, dikhawatirkan oleh pemerintah colonial, sehinga SDI harus dibubarkan. Sebagai tindakan antisipasi pemberangusan gerakan, SDI kemudian mengganti namanya menjadi SI. Dalam buku sejarah tersebut, tidak terdapat uraian yang jelas tentang waktu dari kelahiran SI. Penulis hanya mengatakan bahwa SI lahir tiga tahun setelah BU berdiri.

Dari sedikit pembanding di atas, maka sudah sepantasnya momen kebangkitan nasional dirubah demi menghormati dan menghargai para pendahulu kita yang telah merintis kemerdekaan dengan segenap jiwa dan raganya. Dewasalah kita, demi kemurnian sejarah bangsa. Dan untuk kaum muda, tetaplah kritis untuk mengungkap fakta sejarah lainnya. Bagi sejarawan yang telah berumur, mulailah mengajarkan tentang kejujuran pada kami, bangsa yang senantiasa membanggakan kebenaran.